Kamis, 05 November 2015

Suasana membaca buku cukup banyak setelah perpustakaan keliling Safiatun Najah gagasan Miftah Udin beroperasi dan memberikan bacaan gratis. Foto Panji
Suasana membaca buku cukup banyak setelah perpustakaan keliling Safiatun Najah gagasan Miftah Udin beroperasi dan memberikan bacaan gratis. Foto Panji

Dari Perahu Bambu Jadi Segudang Ilmu

CIREBON, FOKUSJabar.com : Banyak cara untuk mengaplikasikan ilmu dan karya kepada masyarakat yang dihasilkan dari proses membaca dan praktik.
Salah satunya adalah gagasan membuat Perpustakaan Safinatun Najah. Perpustakaan keliling milik Miftah Udin warga Desa Tegalgubug Blok 4 Ponpes Al Anwariyar Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon ini menjadi magnet para siswa dan masyarakat yang ingin sekali membaca.
Miftah Udin, penggagas perpustakaan keliling Safiatun Najah. Foto Panji
Miftah Udin, penggagas perpustakaan keliling Safiatun Najah. Foto Panji
Panggil saja Emik, pria kelahiran 20 September 1989 ini berhati mulia memberikan kontribusinya kepada ilmu pengetahuan. “Konsepnya sangat sederhana sekali. Cuma disuruh membaca apa yang dibaca, terus suruh menyimpulkan kembali bacaan yang udah dibaca sama si anak murid tersebut pada buku tulisnya untuk diberikan pada wali kelasnya masing-maasing. Itu konsep ketika kita berada wilayah sekolah. Kalau di rumah atau tempat umum paling hanya dibebaskan membaca saja,” sebut Emik, Kamis (5/11/2015).
Bermodalkan motor odong-odong dengan hiasan perahu bambu yang dijadikan tempat buku, Emik memaknai perpustakaan keliling ini sebagai misi mulianya memajukan dunia pendidikan. Emik rela berkeliling ke sekolah-sekolah dasar kawasan pelosok Kabupaten Cirebon.
Suasana membaca buku cukup banyak setelah perpustakaan keliling Safiatun Najah gagasan Miftah Udin beroperasi dan memberikan bacaan gratis. Foto Panji
Suasana membaca buku cukup banyak setelah perpustakaan keliling Safiatun Najah gagasan Miftah Udin beroperasi dan memberikan bacaan gratis. Foto Panji
Dalam mengelola perpustakaan keliling, Emik menargetkan pembaca adalah siswa. Namun, tidak menutup kemungkinan dirinya memberikan bacaan buku gratis untuk masyarakat umum. “Kalau untuk yang umum saya lebih tidak keliling tapi stand by di depan rumah. Baca gratis ditempat,” sebutnya.
Dijelaskan, Emik memberi nama Perpustakaan Safinatun Najah tersebut memiliki arti Perahu Penyelamat. Pemberian nama tersebut diadopsi dari Kitab Safinatyn Najah.
“Filosofi perahu, dia ambil dari mbah Kyai Maemun Zubair yakni ‘Orang cerdas itu orang yang mengetahui perkembangan zaman, Islam di Indonesia harus beda dengan islam di negara manapun, meskipun dasarnya sama Al Qur’an n Hadist, tapi racikannya harus beda, sebab beda zaman dan budaya,” sebutnya.
Tak habis fikir, sosok Emik ternyata adalah seorang kuli panggul boneka di Tegalgubug. Tidak ada kata mengeluh dan menyerah bagi Emik untuk memajukan pendidikan di wilayahnya.
Meskipun, lanjut Emik, buku yang disajikan olehnya masih sebatas komix sejarah, majalah pesantren, sastra dan pelajaran lainnya. “Saya membuat perpustakaan ini hasil kerja saya bulan kemarin di pameran kuliner di bekasi,” akunya.
Emik mengaku tidak khawatir kehilangan buku koleksinya. Sebab, sertiap beroperasi, dirinya selalu memberi tahu terlebih dahulu kalau buku harus dibaca ditempat. “Kami kan bilang dulu sama si pembacanya bareng bareng berlayar membaca sambil jaga bareng-bareng barang yang ada d hadapan kita,” sebutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar