witana (Foto : Panji)
Witana, Asal Muasal Berdirinya Cirebon
CIREBON, FOKUSJabar.com: Di tengah hiruk pikuk masyarakat Kota Cirebon, FOKUSJabar melakukan penelusuran asal muasal berdirinya ‘Kota Wali’ ini.
Sebagai kota tertua di wilayah Jawa menyimpan sebuah sejarah yang tidak semua orang ketahui. Seperti witana, bukan karena susahnya dijangkau tetapi keriuhan Pasar Kanoman sebagai satu-satunya jalan menuju Keraton Kanoman yang membuat orang tidak perhatian ada apa di dalam Keraton Kanoman tersebut.
Witana berada di area bagian belakang Keraton Kanoman, dengan melewati tempat tinggal keluarga sultan Keraton Kanoman, menjadi salah satu bangunan menarik yang terdapat di lingkungan keraton seluas sekitar enam hektare.
Kata ‘witana’ yang berasal dari bahasa Cirebon ‘awit’ atau asal/mula dan ‘ana’ atau ada. Jika diartikan, witanaberarti asal mula ada yang dalam konteks ini asal mula berdirinya Cirebon. Konon, witana merupakan bangunan Keraton Cirebon yang pertama didirikan, sebelum dibangunnya Keraton Kasepuhan.
Diceritakan Pangeran Raja Mochammad Qodiran, witana merupakan satu-satunya bangunan ketika Cirebon masih berbentuk pedukuhan Caruban.
“Sekitar tahun 1445 masehi di pedukuhan itu hidup 52 orang dari berbagai etnis seperti Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab, India dan Persia,” tuturnya.
Witana didirikan Pangeran Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran, yang digunakannya sebagai tempat tinggal. Dikatakan, awalnya, witana tersebut digunakan oleh Pangeran Cakrabuana sebagai tempat pengajian dan tempat bermusyawarah.
Hingga saat ini, bangunan witana sampai sekarang masih digunakan untuk tempat pengajian dan musyawarah. Selain itu juga digunakan untuk pembacaan babad Cirebon.
“Pembacaan babad Cirebon yang berisi sejarah berdirinya Cirebon di tempat yang menjadi cikal bakal Kota Cirebon yaitu Witana, memberikan kesan spiritual tersendiri,” tambahnya.
Dikatakan, witana sebagai salah satu bangunan penting di Keraton Kanoman untuk masyarakat Cirebon menjadi kekayaan budaya dan tradisi Kota Cirebon sendiri. Bangunan kayu tanpa dinding yang terkesan klasik tidak jauh beda bentuknya seperti pendopo di keraton-keraton Jawa lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar