Festival Linggajati menghadirkan 1000 angklung di Perundingan Linggajati Kuningan. (Foto: Panji)
1000 Angklung dari Kuningan untuk Indonesia
CIREBON, FOKUSJabar.com: Keceriaan anak-anak SD pun larut dalam keasyikan mereka bermain alat musik tradisional angklung.
Di objek wisata Linggajati Kabupaten Kuningan, suara gemuruh alat musik angklung membahana mengiringi lagu Manuk Dadali, Tanah Airku dan Roar (Ketty Peri) yang dimainkan sekitar 15 menit oleh 100 peserta Festival Linggajati.
Tepatnya pada Sabtu dan Minggu 14-15 November 2015, festival budaya yang bertajuk “Angklung Days” menghiasi objek wisata bersejarah ini. “Alat musik ini selain tradisional dan warisan budaya menjadi saksi perjalanan sejarah yang tidak kalah pentingnya dalam perkembangan negara,” papar Kepala Disparbud Kabupaten Kuningan, Teddy Suminar.
Penonton pun larut dalam kemerduan suara angklung yang harmoni, suara yang pantas bisa menggugah rasa bagi siapapun. Kemerduan angklung itu juga sempat menjadi sejarah dan saksi perjuangan diplomasi Perundingan Linggajati 69 tahun lalu, tepatnya pada 11-13 November 1946.
Bahkan nampak Ketua BKPP Cirebon, Moh. Toha mewakili Gubernur Jawa Barat bersama Kepala Disparbud Kuningan Teddy Suminar, Staf Ahli Bupati Ucu Suryana dan beberapa unsur Muspida lainnya lihai memainkan angklung.
Dikatakan, angklung menjadi pernah menjadi alat diplomasi, dimana upaya mencari jalan terang bagi negara-negara se-Asia Afrika, yang kemerdekaannya masih dalam belenggu kolonialisme. “Saat itu, ketika para delegasi Indonesia-Belanda belum menemukan titik temu dan diputuskan untuk rihat, pementasan Angklung Daeng Soetigna menjadi satu-satunya penghibur,” sebutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar