Kamis, 01 Oktober 2015

Paidin (35) warga Desa Raharja Kec. Purwaharja Kota Banjar tengah memahat limbah kayu jati untuk dijadikan karya eksotik di rumahnya. Kamis (1/10/2015). (Foto:Risal)
Paidin (35) warga Desa Raharja Kec. Purwaharja Kota Banjar tengah memahat limbah kayu jati untuk dijadikan karya eksotik di rumahnya. Kamis (1/10/2015). (Foto:Risal)

Limbah Hutan Disulap Jadi Kerajinan Menarik

BANJAR, FOKUSJabar.com:  Akar dan tunggak pohon sisa penebangan yang terhampar di hutan Perhutani di wilayah KRPH Kota Banjar Jawa Barat diolah menjadi kerajinan bernilai seni. Paidin (35) salah seorang warga Dusun Randegan Satu RT 14 RW 06, Desa Raharja Kec. Purwaharja, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat mampu mengubah limbah hutan itu menjadi kerajinan eksotis.
Beragam karya monumental pun telah ia ciptakan, mulai dari lukisan berbentuk relief, meja berukiran “kera” dan berbagai macam bentuk lainnya. Siapapun akan terpana saat berkunjung di pusat kerajinan ukiran milik Paidin atau yang sehari-harinya kerap disapa Godeg. Tempat kerjainannya berlokasi di Jalan Raya Siliwangi Kota Banjar Jawa Barat.
Di depan rumah Godeg tumpukan akar dan tunggak pohon menghampar. Sepintas lalu, akar dan limba kayu bakar yang didatangkan dari hutan belantara itu, terlihat laksana ‘monster’ dan barang rongsokan. Namun jangan salah, dari akar dan limbah pohon jati itulah karya-karya monumental banyak tercipta dan menghasilkan rupiah.
Untuk menghasilkan karya terbaik, akar dan limbah kayu itu harus diproses sedemikian rupa. Godeg menjelaskan, sebagai proses awal seluruh akar dan tunggak pohon yang ada terlebih dahulu dibersihkan dan dikupas dengan rapi menggunakan mesin dengan mengikuti alur dan bentuk akar.
“Setiap akar pohon yang telah dikupas akan dibersihkan lalu ditampung dalam tempat khusus,” terang Godeg, Kamis (01/10/2015). Meski baru tahap awal, namun akar dan tunggak pohon itu sudah terlihat menakjubkan.
Harga tunggak pohon yang dijual pencari kayu bervariatif mulai dari 300 ribu hingga 1 juta rupiah. “Ya harga tunggak pohon lumayan mahal sih, tapi kalau sudah kita permak cukup lah buat memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Godeg.
Karya-karya yang menghampar di pusat kerajinan ukiran asli warga Desa Raharja tersebut tentu saja dijual dengan harga beragam, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp3 juta.
Dari seluruh karya yang dihasilkan ukiran meja motif buaya, singa terbilang cukup mahal. Banyak peminat yang terpesona dengan karya-karya itu bahkan hampir setiap pekan, di kediaman Godeg selalu dipenuhi pengunjung.
“Kerajinan yang ada di tempat ini sangat eksotis dan menarik,” Kata Dadi Mulyadi, ST (38), seorang pembeli asal Kota Banjar.
Usaha ini sendiri mulai dirintis Hadi sejak tahun 2012 silam. Dengan melihat sumber daya dan bahan baku yang melimpah, Godeg mencoba peruntungan di dunia ukiran kayu. Kurang lebih dua tahun, namun semangatnya tak pernah surut.
Walau dalam sebulan hasil produksi bisa menghasilkan satu ukiran saja, namun tak menyulutkan niatnya memproduksi limba kayu menjadi karya olesan tangan, motif pun bisa tergantung dari permintaan atau pesanan pelanggan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar