Ilustrasi (web)
Tradisi dan Ritual Unik Dibalik Pemilihan Kuwu
CIREBON, FOKUSJabar.com: Ada tradisi unik dari pelaksanaan pemilihan kuwu serentak yang digelar disejumlah TPS di balai desa kabupaten Cirebon, Minggu (25/10/2015).
Salah satu tradisi turun temurun yang hingga kini masih dilestarikan salah satunya adalah para calon kuwu membawa lambang-lambang wayang sebagai lambang dari watak para calon kuwu tersebut.
Untuk lambang wayang yang biasa digunakan oleh para calon kuwu diantaranya wayang Samiaji, Tresna, Semar dan Arjuna.
“Iya selain membawa kursi untuk singgah para calon kuwu pun membawa lambang wayang yang melambangkan watak dan karakter kuwu tersebut,” ujar H. Sulam Hadi selaku Tokoh Masyarakat sekitar.
Tak hanya itu, diungkapkan Sulam sapaan akrabnya, tradisi lain dari pilwu juga adalah membakar kemenyan yang dimulai pada malam hari hingga perhitungan suara selesai. Pembakaran kemenyan ini sangat dipercaya oleh masyarakat untuk mengetahui calon kuwu yang akan menang.
“Pembakaran kemenyan dimulai dari malam hari sekitar pukul 22.00 WIB itu membakar di tungku atau anglo dan jika apinya terus membesar dan tetap bertahan hingga proses perhitungan suara itu diyakini bakal menang dalam pemilihan. Namun sebaliknya, apabila apinya kecil dan bahkan mati, calon kuwu itu dipercaya akan kalah,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan, hampir seluruh calon kuwu memiliki guru spiritual dalam proses pencalonan. Tak hanya itu dirumah para calon kuwu juga tempat duduknya diberi intertampah yang dikasih beras dan gabah. Serta menaburi garam sebagai lambang pemikat calon.
“Calon kuwu duduk di kursi itu dan membawa beras serta gabah dan tetap membaca asma Allah, ” tambahnya.
Sementara bahan ritual yang dibawa saat pencalonan sendiri berupa pandan dan waringin. Untuk pandan memiliki arti mengharumkan sebuah desa dan waringin untuk mengayomi masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar