Minggu, 25 Oktober 2015

Cecep R Rusdaya Kepala SMAN 8 Garut (Foto: Bambang F)
Cecep R Rusdaya Kepala SMAN 8 Garut (Foto: Bambang F)

Sumpah Pemuda Sebagai Manifestasi Kokohnya Kesatuan dan Persatuan Indonesia

GARUT, FOKUSJabar.com: Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati Bangsa Indonesia.
Sayangnya hal itu kerap tercoreng aksi-aksi tak negatif, seperti tawuran antar pelajar, antar penduduk desa dan tawuran antar pendukung sepak bola.
Tentu hal itu tidak serta merta melunturkan stigma ikrar para pemuda terdahulu yang begitu tulus.
Di tengah kondisi getir dan bersenggolan dengan penjajah pun para pemuda tetap menjunjung tinggi cinta tanah air, satu bangsa, dan bahasa.
Demikian disampaikan Kepala SMAN 8 Garut Cecep R. Rusadaya menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang. Menurutnya, Sumpah Pemuda adalah tonggak utama dalam sejarah pergerakan Indonesia.
Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya Negara Indonesia.
Karenanya, 20 Mei 1908 lahirlah Boedi Oetomo sebagai organisasi pemuda yang membuka jalan menuju tekad sumpah pemuda yang didirikan oleh Dr. Soetomo.
Lalu pada tahun 1927, Ir. Soekarno membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI) yang beranggotakan seluruh warga Indonesia yang fokus membahas tentang pembebasan dari pemerintahan Belanda dan mencapai kemerdekaan.
“ 28 Oktober 1928, lahirlah Sumpah Pemuda ketika All Indonesian Youth Congress memutuskan satu tujuan nasional,” papar Cecep Rusdaya.
Perkumpulan pertama kongres Pemuda Indonesia diadakan di Batavia, ibukota Dutch East Indies (Hindia Belanda) pada tahun 1926, yang sayangnya tidak menelurkan keputusan apapun tapi mencetuskan ide tentang Indonesia yang bersatu.
Baru pada Oktober 1928, pertemuan kedua digelar di tiga tempat yang berbeda. Sesi pertama berharap bahwa kongres pemuda akan menginspirasi rasa persatuan. Sesi kedua membahas tentang isu-isu pendidikan yang ada dan terakhir diadakan di Jalan Kramat Raya No.126, dimana para partisipan untuk pertama kalinya mendengar lagu nasional Indonesia Raya yang diciptakan oleh Rudolf Supratman dan ditutup dengan pembacaan sumpah pemuda.
“ Peristiwa inilah yang kemudian menjadi sejarah Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,” pungkas Kepala SMAN 8 Garut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar