lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi produksi bata merah (Foto: Bambang F)
Gunung Galunggung Meletus, Petani Linggamukti Jadi Pengrajin Batu Bata
GARUT, FOKUSJabar.com: Seiring perkembangan zaman, penyusutan luas lahan pertanian terus berlangsung. Ribuan hektar sawah setiap tahun beralih fungsi untuk kepentingan lain di luar sektor pertanian. Hal ini tentu saja mengancam produksi pangan nasional, terutama beras.
Semisal wilayah Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, kini menjadi daerah industri bata merah. Padahal sebelumnya sebagai kawasan pertanian penghasil padi dan kacang-kacangan.
Informasi yang dihimpun FOKUSJabar, Perubahan alih fungsi lahan pertanian di sana lantaran sumber mata air dari kaki Gunung Aniji tertutup lapisan material letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982 lalu.
Hal tersebut dibenarkan salah seorang warga Kampung Peer, RT04/04, Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja, Dede Ragud. Menurutnya, sebelum tragedi gunung Galunggung meletus daerahnya merupakan kawasan pertanian yang merupakan salah satu andalan kota Intan.
“ Lahan-lahan yang kini digunakan produksi bata merah, dulunya sebagai lahan pertanian yang cukup melimpah sebagai penghasil padi dan kacang-kacangan,” kata Dede Ragud, Rabu (23/9/2015).
Pasca meletusnya gunung Galunggung, warga setempat mulai memanfaatkan lahan-lahan tandus tersebut menjadi lahan produksi bata merah.
Kini sebanyak 70 orang dari 170 pengusaha bata merah masih mempertahankan usahanya. Mereka gulung tikar lantaran biaya produksi tidak seimbang dengan harga jual akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD.
“ Saat itu, Kampung Peer masuk ke wilayah Desa Sadang, Kecamatan Wanaraja. Tahun 1985-1986 dimekarkan menjadi Desa Linggamukti dan 2004 pemekaran Kecamatan menjadi Sucinaraja,” pungkas Dede Ragud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar